Lolos Scopus dengan Mengubah Mindset: Menulis Dimulai dari Kebiasaan Keci


 


Karawang – Workshop Peningkatan Kompetensi Dosen dalam Publikasi Artikel Ilmiah Terindeks Scopus dilaksanakan pada Senin, 28 September 2026, bertempat di Hotel Delonix, Karawang. Kegiatan yang berlangsung pada pukul 14.00–15.15 WIB tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Ali Nurdin, MA (Hons), MA., Ph.D. sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dr. Jaenal Abidin, M.Pd.I.

Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Ali Nurdin menekankan bahwa keberhasilan menembus jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh mindset, konsistensi, dan kebiasaan menulis. Menurutnya, banyak dosen sebenarnya memiliki ide dan kemampuan akademik yang memadai, tetapi proses menulis sering terhambat oleh kesibukan, kebiasaan menunda, kesulitan memulai, suasana hati, hingga kekhawatiran bahwa gagasan yang dimiliki belum cukup baik.

 

Untuk mengatasi hambatan tersebut, ia menawarkan lima perubahan mindset dalam menulis.

Pertama, dari “sibuk” menjadi “meluangkan waktu”. Kesibukan tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti menulis. Dosen dapat memulainya dengan menyediakan waktu sekitar 15 menit setiap hari. Waktu yang singkat tetapi dilakukan secara konsisten akan lebih produktif dibandingkan menunggu tersedianya waktu luang yang panjang.

Kedua, dari “menunda” menjadi “memprioritaskan”. Menulis perlu ditempatkan sebagai salah satu prioritas. Salah satu strateginya adalah menjadikan menulis sebagai syarat sebelum melakukan aktivitas lain. Prinsip sederhananya adalah, “Saya harus menulis terlebih dahulu sebelum melakukan yang lainnya.”

Ketiga, dari “tidak bisa mulai” menjadi “mulai saja”. Jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai menulis. Satu kalimat, satu paragraf, atau satu gagasan sudah cukup untuk mengawali proses. Hambatan terbesar terkadang bukan pada kemampuan menulis, tetapi pada keberanian untuk memulai.

Keempat, dari “tidak mood” menjadi “menulis untuk memunculkan mood”. Menulis tidak perlu menunggu suasana hati yang ideal. Justru aktivitas menulis dapat membangun fokus dan memunculkan mood. Karena itu, jangan menunggu mood untuk menulis, tetapi mulailah menulis untuk memunculkan mood.

Kelima, dari “ide saya jelek” menjadi “tulis dahulu, sempurnakan kemudian”. Penulis tidak perlu terlalu cepat menilai buruk gagasannya sendiri. Tuliskan terlebih dahulu ide yang dimiliki, kemudian lakukan perbaikan melalui proses membaca ulang, penyuntingan, dan revisi. Artikel yang berkualitas lahir melalui proses penyempurnaan.

 

Setelah Artikel Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Setelah membahas mindset, Prof. Ahmad Ali Nurdin memaparkan sejumlah langkah yang perlu diperhatikan ketika penulis telah memiliki naskah artikel.

1.       Pertama, penulis harus mempelajari author guidelines jurnal yang dituju. Struktur artikel, gaya sitasi, jumlah kata, format tabel dan gambar, serta berbagai ketentuan teknis lainnya harus disesuaikan dengan ketentuan jurnal.

2.       Kedua, penulis perlu membaca artikel-artikel yang telah diterbitkan oleh jurnal tujuan dan mengidentifikasi sedikitnya tiga artikel yang relevan dengan topik penelitian. Artikel tersebut dapat dijadikan referensi dan dikutip sepanjang memiliki keterkaitan substantif dengan penelitian. Langkah ini sekaligus membantu penulis memahami karakter, fokus, dan diskursus akademik jurnal tujuan.

3.       Ketiga, sebelum dikirimkan, artikel sebaiknya dimintakan review kepada orang lain, terutama akademisi atau kolega yang telah memiliki pengalaman dalam publikasi internasional. Teknologi Artificial Intelligence (AI) juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk melakukan pemeriksaan awal. Review dapat diarahkan pada empat aspek, yaitu general, untuk melihat artikel secara keseluruhan; content, untuk menilai substansi dan kekuatan argumentasi; flow, untuk memastikan alur tulisan logis dan sistematis; serta other, untuk menemukan aspek lain yang masih membutuhkan perbaikan.

4.       Keempat, penulis perlu memperhatikan kualitas gramatikal dan bahasa akademik. Grammar, pilihan kosakata, struktur kalimat, dan konsistensi istilah perlu diperiksa kembali sehingga gagasan dapat disampaikan secara jelas dan mudah dipahami oleh pembaca internasional.

5.       Kelima, artikel harus menerapkan prinsip straight to the point, yaitu fokus pada inti gagasan yang hendak disampaikan. Tulisan tidak perlu dipenuhi terlalu banyak “bumbu” yang justru membuat pembahasan melebar. Setiap paragraf harus memberikan kontribusi terhadap argumentasi utama, menjawab tujuan penelitian, dan memperjelas kontribusi ilmiah artikel.

6.       Keenam, dalam menentukan jurnal tujuan, penulis dapat memperluas pencarian jurnal internasional ke berbagai negara, termasuk negara dengan komunitas Muslim minoritas apabila kajian berkaitan dengan Pendidikan Islam atau Islamic Studies. Strategi tersebut dapat menjadi alternatif untuk memperluas pilihan jurnal sekaligus menemukan jurnal yang memiliki scope dan pembaca yang sesuai dengan tema artikel.

Melalui workshop ini, peserta diajak memahami bahwa publikasi Scopus dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni mengubah mindset, menyediakan waktu 15 menit setiap hari, berhenti menunda, berani memulai, tidak bergantung pada mood, serta tidak takut terhadap ketidaksempurnaan tulisan awal.

Pesan penting yang mengemuka dari materi tersebut adalah bahwa tulisan yang baik bukanlah tulisan yang langsung sempurna sejak awal. Kualitas artikel dibangun melalui proses yang konsisten: mulai menulis, membaca kembali, meminta review, memperbaiki, dan terus menyempurnakan hingga layak dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi.