Berangkat dari pemikiran tersebut, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), Dr. Yadi Fahmi Arifudin, M.Pd.I., bersama Halimah Soewandi Putri, S.Pd., mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UNSIKA angkatan 2024, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Transformasi Guru Al-Qur'an Menuju Smart Teacher: Akselerasi Kompetensi dengan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI)”.
Kegiatan yang berlangsung di Sahabat Jannah, Karawang, pada 30 Oktober 2026, pukul 08.00–12.00 WIB, tersebut diikuti sekitar 15 guru Al-Qur'an. Pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan santri di era digital.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum peningkatan kompetensi guru, tetapi juga merupakan upaya hilirisasi hasil penelitian Dr. Yadi mengenai integrasi AI dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang sebelumnya dilaksanakan di SMA IT Mentari Ilmu Karawang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Al-Tarbawi Al-Haditsah, Volume 10 Nomor 2, dengan judul “Integrating Artificial Intelligence into Islamic Religious Education: Toward a Model for Ethical and Values-Based Technology Adoption in Faith-Based Schools” tersebut mengkaji pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan Islam dengan tetap memperhatikan dimensi etika dan nilai-nilai keagamaan.
Melalui kegiatan PkM ini, gagasan dan temuan penelitian tersebut dibawa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya para guru Al-Qur'an yang berhadapan langsung dengan beragam karakteristik dan kemampuan belajar santri.
Mengembangkan Pembelajaran Al-Qur'an yang Bermakna
Dalam penyampaian materinya, Dr. Yadi mengajak peserta untuk melihat kembali hakikat keberhasilan pendidikan Al-Qur'an. Menurutnya, kemampuan membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an merupakan capaian penting, tetapi pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan semata.
Pembelajaran Al-Qur'an juga perlu menyentuh aspek afektif dan spiritual agar santri tidak hanya mampu melafalkan ayat dengan benar, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Atas dasar tersebut, Dr. Yadi memperkenalkan pentingnya pengembangan empat potensi peserta didik, yakni kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual. Keempatnya perlu mendapat perhatian secara seimbang agar proses pembelajaran mampu membentuk pribadi yang berpengetahuan, terampil, dan berakhlak.
Pembahasan kemudian diarahkan pada bagaimana guru dapat merancang pembelajaran yang lebih terstruktur. Peserta diajak memahami keterkaitan antara tujuan, materi, metode, dan evaluasi pembelajaran. Mereka juga diperkenalkan pada prinsip SMART dan ABCD untuk membantu merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas, terukur, dan sesuai dengan kemampuan santri.
Berbagai metode pembelajaran Al-Qur'an, seperti talaqqi, musyafahah, demonstrasi, praktik langsung, dan metode kisah, turut dibahas sebagai pendekatan yang tetap relevan untuk dikembangkan.
Dari Hasil Penelitian Menuju Praktik Pembelajaran
Suasana pelatihan dirancang tidak hanya berpusat pada pemaparan materi. Peserta juga diajak terlibat melalui aktivitas penyegaran atau ice breaking, latihan, demonstrasi pemanfaatan AI, serta diskusi kelompok.
Pada sesi pemanfaatan teknologi, Dr. Yadi memperkenalkan bagaimana AI dapat membantu guru menyusun tujuan pembelajaran, mengembangkan bahan ajar, menentukan metode, membuat skenario kegiatan, hingga merancang instrumen evaluasi.
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa penggunaan AI tidak boleh mengurangi tanggung jawab guru sebagai pendidik. Setiap informasi yang dihasilkan teknologi tetap perlu diperiksa, terutama yang berkaitan dengan ketepatan materi Al-Qur'an, kaidah tajwid, serta kesesuaian dengan perkembangan santri.
Dengan demikian, teknologi ditempatkan sebagai sarana pendukung kreativitas dan efektivitas kerja guru, bukan sebagai pengganti keteladanan, kasih sayang, dan pembinaan akhlak yang menjadi inti pendidikan Islam.
Untuk memperkuat pemahaman, peserta mengikuti diskusi dalam empat kelompok. Kelompok pertama membahas visi, misi, tujuan, strategi, dan profil lulusan. Kelompok kedua berfokus pada pengembangan materi ajar, kelompok ketiga menyusun metode dan skenario pembelajaran, sedangkan kelompok keempat merancang evaluasi pembelajaran.
Pembagian tersebut bertujuan memperlihatkan bahwa setiap komponen pendidikan saling berkaitan. Tujuan yang baik perlu didukung materi yang tepat, metode yang sesuai, serta evaluasi yang mampu mengukur ketercapaian pembelajaran.
Melalui presentasi hasil diskusi, peserta memperoleh kesempatan untuk saling berbagi gagasan dan memperkaya alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di lembaga masing-masing.
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa dalam Pengabdian kepada Masyarakat
Kegiatan ini juga memiliki nilai penting dalam penguatan kolaborasi akademik. Keterlibatan Halimah Soewandi Putri, S.Pd., sebagai mahasiswa Magister PAI UNSIKA angkatan 2024, menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengembangan keilmuan di perguruan tinggi dengan kebutuhan pendidikan Islam di masyarakat.
Kolaborasi dosen dan mahasiswa tersebut sekaligus mencerminkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam mengintegrasikan hasil penelitian dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Dr. Yadi berharap para guru Al-Qur'an semakin terbuka terhadap inovasi pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai dan tradisi pendidikan Islam yang telah berkembang.
Menjadi Smart Teacher bukan berarti harus selalu menggunakan teknologi dalam setiap kegiatan. Lebih dari itu, guru diharapkan mampu memahami kebutuhan santri, memilih pendekatan yang tepat, memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana, serta menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
Apresiasi bagi Tiga Peserta dengan Nilai Post-Test Tertinggi
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Dr. Yadi memberikan apresiasi berupa doorprize buku kepada tiga peserta yang berhasil meraih nilai tertinggi dalam post-test. Buku yang diberikan merupakan karya kolaborasi Dr. Yadi bersama mahasiswa Magister PAI UNSIKA angkatan 2024.
Pemberian apresiasi tersebut menjadi salah satu bentuk penghargaan atas kesungguhan peserta dalam mengikuti dan memahami materi pelatihan. Berbeda dengan doorprize yang umumnya diberikan melalui undian, penerima buku dalam kegiatan ini ditentukan berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan pada akhir pelatihan.
Selain menjadi bentuk penghargaan, pemberian buku tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan karya akademik hasil kolaborasi dosen dan mahasiswa kepada para pendidik Al-Qur'an.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru, tetapi juga didorong untuk terus mengembangkan kompetensi melalui budaya membaca, belajar, dan berbagi pengetahuan.
Kegiatan PkM di Sahabat Jannah ini menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan hasil penelitian akademik dengan praktik pendidikan di masyarakat. Kolaborasi dosen dan mahasiswa, pemanfaatan teknologi, diskusi pembelajaran, hingga pemberian buku karya bersama memperlihatkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kontribusi nyata.
Pada akhirnya, transformasi pendidikan Al-Qur'an bukan sekadar tentang menghadirkan teknologi di ruang belajar, melainkan tentang bagaimana guru terus berkembang untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga mencintai serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.



